Rahman, PPSDM HIMMPAS 2018
Saya ingin mengawali tulisan sederhana ini dengan kata-kata Napoleon Bonaparte “If the world were a single state, Konstantinopel would be it’s capital”. Konstantinopel yang sekarang adalah Republik Turki setelah runtuhnya Turki utsmani merupakan suatu negara yang kaya akan sejarah islam dan keindahan semua sisi kotanya. Kekayaan sejarah islam sangat terasa ketika kita berada di Masjid Sultanahmet, museum Topkapi, museum Hagia Sophia, museum Dolmabahce, dan lain sebagainya. Pada kesempatan yang Allah berikan kali ini, Alhamdulillah saya bisa berkunjung untuk melihat dan merasakan langsung keindahan negeri para sultan ini dalam rangka mengikuti seminar internasional. Kesempatan yang Allah berikan kali ini membuat saya semakin mengerti bahwa usaha haruslah dibarengi dengan doa karena usaha tanpa doa itu sombong sedangkan doa tanpa usaha itu kosong. Kurang lebih 10 hari berada di tanah Turki cukup bisa membuat penasaran saya terobati. Sebelumnya, saya hanya bisa mendengar cerita dari teman dan melihat dari media massa tentang keindahan dan kekayaan kota Turki. Saya merasa bersyukur yang sebesar-besarnya kepada Allah yang dengan kebesaranNya sehingga kaki saya bisa berpijak di Tanah Turki.
Tidak pernah terbayang jika tidak ada campur tangan Allah dalam setiap skenario yang kita mainkan. Diri ini sungguh tak akan mampu berbuat apa-apa bahkan hanya melangkah sejengkal saja tidak akan sanggup. Maka sebagai insan yang sudah jelas tujuan penciptaannya yaitu: untuk beribadah kepada sang pencipta, janganlah sekali-kali meninggalkan kewajiban itu. Dalam perjalanan saya ini, Alhamdulillah meskipun harus melalui perjalanan yang panjang nan berat, masih ada keringanan dan kekuatan untuk melakukan segala kewajiban. Shalat 5 waktu tidak pernah dilupakan. Sama seperti saya membutuhkan makan untuk menambah energi, begitulah saya membutuhkan shalat untuk terus mengingatkan saya bahwa saya adalah insan yang lemah tempat salah dan lupa.
Hari pertama sampai hari ketiga di Turki, saya menginap di Ferman Hilal Hotel dekat dengan tempat seminar di kota taksim. Hanya beberapa meter dari Taksim Square dan Istiqlal street. Taksim sebuah kota yang menyuguhkan pemandangan indah dan membuat betah. Suhu di sini rata-rata 9-10 derajat celcius. Saya harus menyesuaikan diri karena baru pertama menghadapi suhu sedingin ini. Meski sudah memakai jaket tebal lengkap dengan sarung tangan dan shal, tidak membuat dinginnya hilang. Dinginnya tidak menyerah menembus kain tebal untuk menusuk kulit saya. Tidak kuat saya berlama-lama di luar dengan suhu itu. Hari terakhir seminar, kami para peserta seminar mengikuti program sosial yaitu bosphorus tour keliling menggunakan boat melihat keindahan kota Turki dari laut. Sangat seru karena dari sini, kita bisa melihat dengan sangat jelas tempat-tempat bersejarah dengan sekali jalan. Kita bisa melihat selat Bosphorus yang memisahkan benua Asia dan Eropa karena Turki merupakan negara dua benua. Selain itu, keindahan masjid Ortakoy, Dolmabahce, Rumeli Hisari (Benteng Pertahanan) yang dibangun hanya beberapa bulan atas perintah Sultan kala itu. Sultan itu bernama Muhammad Al-Fatih yang kemudian dikenal dengan sebaik-baik pemimpin karena bisa menaklukkan Konstantinopel. Adapun prajurit-prajuritnya adalah sebaik-baik prajurit, dan bangunan-bangunan lainnya yang memiliki keunikan dan daya tarik masing-masing.
Hari keempat sampai hari terakhir saya di Turki, saya ikut teman-teman dari Universitas Pendidikan Indonesia menginap di daerah dekat Masjid Sultanahmet. Alasan memilih tempat ini adalah agar akses bisa lebih dekat dari tempat-tempat wisata terkenal seperti Hagia Sophia, Topkapi, Sultanahmet, dan lainnya. Salah satu tujuan saya di Turki yaitu bisa mengikuti shalat Jum’at di Masjid Sultanahmet. Pada hari Jum’at, sebelum akhirnya saya merasakan langsung sensasi shalat Jum’at di Masjid Sultanahmet yang sangat ramai, orang-orang dari penjuru bumi berdesakan menempati shaf-shaf di Masjid Sultanahmet untuk sama-sama bersujud melaksanakan kewajiban. Sebelum itu, mas Aldi seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Istanbul mengajak kami berkeliling mengunjungi Topkapi. Topkapi adalah sebuah museum yang di dalamnya terdapat barang-barang peninggalan para nabi termasuk pedangnya nabi Muhammad S.A.W.
Sekitar 2 jam lebih mas Aldi menemani dan menjelaskan dengan detail sejarah tempat dan benda-benda yang terdapat di dalam musium Topkapi. Setelah shalat Jum’at kami melanjutkan perjalanan mengunjungi Dolmabahce palace. Dolamabahce palace yaitu: sebuah kerajaan yang ada di pinggir laut. Tempatnya sangat indah nan megah. Memasuki Dolmabahce palace ini sama seperti memasuki Topkapi museum yaitu: harus membeli tiket seharga 40 TL atau sekitar 150 ribu rupiah. Tidak terasa kami menikmati Dolmabahce palace sampai sore hari. Buru-buru kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Ortakoy. Masjid kecil di pinggir laut yang memesona banyak mata. Shalat ashar kami tunaikan di masjid Ortakoy ini. Sebentar saja kami menikmati suasana di Masjid Ortakoy ini karena keburu malam hari. Sebelum balik ke hotel, kami menutup perjalanan dengan makan malam bersama di tempat yang mas Aldi rekomendasikan yakni warung makan muslim. Mas Aldi mengajak kami makan disana. Sebelum itu mas Aldi menemani kami membeli oleh-oleh di tempat yang ia rekomendasikan juga yakni di Oleh-oleh Turkiye milik orang Malaysia yang sudah menetap di Turki. Saya sudah merasa cukup puas menjelajahi Turki meski tidak sempat berkunjung ke tempat-tempat terkenal lainnya karena harus balik ke tanah air.
[sangar-slider id=”214″]